Detik-detik pindahan
12 Februari 2020 adalah hari di mana akhirnya saya terbang meninggalkan Kota Kinabalu setelah tinggal di kota itu sejak Desember 2016. Foto di atas adalah pemandangan menjelang detik-detik saya meninggalkan rumah sewaan.
Mikir untuk berhenti kerja dan pulang ke Indonesia itu pergulatan panjang antara hati dan pikiran. Andai saja orang-orang tahu apa yang saya hadapi dan kenapa saya ambil keputusan ini. Dukungan dari Mas Bromo dalam mengambil keputusan juga patut diacungkan jempol, kalau tidak, mungkin saja saat ini saya ada di keadaan yang semakin tidak nyaman karena alasan A - Z yang tidak bisa saya kontrol. Sedikit cerita, keputusan saya berhenti kerja dan pulang ke tanah air itu ditanggapi dengan berbeda oleh beberapa pihak. Bahkan ada pandangan negatif tentang keputusan itu. Perlu diingat bahwa hidup saya adalah hidup saya, banyak keputusan yang tidak perlu diketahui alasannya oleh semua orang. Saya hanya menceritakan alasan yang sebenarnya pada beberapa orang, semoga mereka berempati dan paham. Lagi, saya tidak bisa kontrol persepsi orang.
Meninggalkan cerita tidak mengenakkan di atas, saya kembali lagi ke cerita pindahan, ya. Proses packing saya itu sekitar 3 bulan. Walaupun sebenernya ingin lebih awal membereskan barang-barang. Karena yang paling berat adalah bukan membereskan barang yang mau dibawa, tapi membereskan barang yang harus dengan suka rela ditinggalkan 😢
Banyak scenes di mana saya masukkan barang ke kotak, dikeluarkan lagi, dimasukkan lagi saking galau. Barang yang mau dibawa aja atau dikasih ke teman. Barang yang mengandung memori tapi minim guna, harus dibawa atau dibuang atau ditinggal. Aduh! It was unpleasant.
Belum lagi drama ngirim kotak-kotak berisi entah barang apa aja ke kantor Pos Malaysia. Kami kirim 3 kotak besar. Besar. Sementara keadaannya adalah parkiran itu ada di luar area gedung kantor pos. Jadi, kami harus angkut kotak-kotak itu ke kantor pos; menyeberangi jalan, naik tangga dan cari counter di dalam kantor pos. Belum lagi waktu mau nimbang kotak, timbangan adanya di meja counter dan gak boleh diturunin. Setelah proses timbang, kami harus angkut sendiri kotak-kotak itu ke lorong tempat para paket disimpan sebelum dikirim. Mas Bromo sampe sakit pinggang 2 hari karena itu.
30 menit sebelum meninggalkan rumah, saya dan Mas Bromo masih harus keluarkan sekitar 3 kilogram barang dari koper-koper kami karena sudah kelebihan berat 😭 Saya tutup mata aja, keluarkan apa yang bisa dikeluarkan. Bahkan sepatu hak tinggi andalan saya sehari-hari. It was insane.
Sampai di bandara, banyak teman-teman yang melepas kepergian saya dan memberi hadiah yang tidak mungkin saya tinggal. Akhirnya harus beres-beres lagi di bandara sebelum masuk ke Boarding Lounge.
Rasa capek beberes barang itu lebih ke psikologis berbanding fisik sih, bagi saya. I reluctantly repatriated. Jadi selama proses beberes, packing dan kirim barang tuh kepala sama hati masih belum sinkron.
Ah, memori.
0 komentar