Ciremai saksinya
Hampir setiap gadis kecil punya impian tentang acara pernikahannya kelak. Semewah atau sesederhana apapun mimpi itu. Saya, entah sejak kapan, membayangkan menikah di dalam rumah dan mensyukurinya bersama keluarga dan sahabat di ruangan terbuka, di taman atau kebun, dekat dengan alam. Rasanya mimpi ini sudah ada jauh sebelum garden party muncul di mana-mana.
Sekian belas tahun dari awal mimpi itu dibangun, seorang laki-laki, sebut saja Mas Bromo, yang entah karena alasan apa Tuhan mempertemukannya dengan saya, melamar dan mengamini mimpi kecil saya itu. Mungkin judulnya “yang penting kamu bahagia”, gitu haha. Tapi, lebih dari itu, tentang pernikahan itu sendiri selalu kami bicarakan berdua, setiap waktu. Jadi, mimpi ini adalah hadiah dan pembuka perjalanan panjang yang akan kami jalani bersama-sama.
Sebelum lamaran itu, konsep akad dan syukuran pernikahan sudah mulai dibicarakan; di mana tempatnya, bagaimana akadnya, bagaimana syukurannya, siapa yang diundang dan detil lainnya yang ternyata banyak juga :D Setelah lamaran, makin serius lagi pembahasannya. Kemudian diputuskan untuk mewujudkan mimpi syukuran pernikahan saya di luar rumah. Maksudnya tidak di rumah dan halaman sebelah seperti yang semula saya pikirkan, karena banyak pertimbangan. Tapi konsep tetap sama; alam dan keakraban bersama keluarga dan sahabat.
Saya, yang mungkin introvert ini, selalu ingin pernikahan yang dihadiri orang-orang yang saya kenal; keluarga dan sahabat. Jujur, saya tidak punya banyak teman (dekat), kenalan mungkin iya, banyak. Tapi, tidak semua orang bisa saya bagi berbagai cerita. Dan untuk pernikahan, saya memilih untuk mensyukuri dan merayakannya dengan mereka; keluarga dan sahabat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman dan kolega lain, tentunya.
Nah, setelah kata sepakat
bahwa kami akan menikah dengan konsep
yang saya impikan itu, mulailah saya dan Mas Bromo keliling mencari tempat yang
bisa mewakili imajinasi saya. Cari di dalam kota dan di luar kota Cirebon.
Sampailah kami pada satu tempat yang memiliki lapangan hijau luas di bagian
belakangnya, dilengkapi pemandangan maha cantik; Gunung Ciremai. Begitu lihat
tempat ini, saya langsung pegang tangan Mas Bromo dan berbisik “ini, Mas!”
sambil tersenyum lebar dan penuh harap di dada. Hotel Horison Tirta Sanita, di
kawasan pariwisata Sangkan Hurip, Kuningan, tempatnya.
Beruntung waktu itu
berkesempatan bertemu dengan pegawai hotel bagian marketingnya, Mbak Aliya, dan
sempat ngobrol ini itu mengenai kemungkinan melakukan akad dan resepsi di
pelataran hijau itu, dan bertanya mengenai harga paket dan lain sebagainya. Harga
paket pernikahan yang mereka tawarkan masuk dalam anggaran dana kami :D Saya
masih ingat, Mbak Aliya, yang waktu itu membantu saya untuk semua persiapan acara
pernikahan ini, berkata “kalau pakai paket kami ini, Mbak cuma perlu bawa
perias aja, sudah bisa jalan nih pestanya”, lebih kurang begitu. Makin
bersinarlah mata saya :) Kemudian ngobrol naninu dengan keluarga, dan yap! Kami
sepakat mengadakan acara pernikahan di sana. Yeay!
Jadi, saya ambil paket yang, bagi
saya sih, lengkap; dekorasi standar untuk akad dan resepsi, 2 kamar standar
untuk 1 malam, 1 honeymoon suite
untuk 1 malam, voucher spa untuk pengantin, hiburan (boleh pilih antara band atau akustik), makanan prasmanan
untuk 500 orang, 4 gubug/food stalls,
dan fasilitas lainnya seperti diskon sampai dengan 40% untuk pemesanan kamar
dan cottage. Cakep! Dalam perkembangan
persiapan acara pernikahan ini, saya memesan tambahan menu gubug, mengkonversi
minuman berkarbonasi menjadi menu lain dan mengkonversi kamar standar yang ada
dalam paket jadi 1 malam lagi menginap di honeymoon
suite.

Jujur, saya tidak sempat
mencicipi makanan waktu acara haha, terlalu sibuk haha hihi dan berfoto sana
sini. Karena konsep acara pernikahannya adalah mingling, jadilah jadi pengantin yang pecicilan. Tapi menurut
keluarga sih makanan yang disediakan enak dan berlimpah, alhamdulillah. Saya
selalu takut makanan kurang, karena menurut saya good food will lead to good mood, jadi makanan enak dengan jumlah
yang mencukupi dan rasanya itu harus banget! Hanya saja makanan yang bersisa
tidak semuanya diperbolehkan dibawa pulang.
Sayang, masih banyak bersisa. Eh, ini entah peraturan di semua hotel
atau bagaimana, saya kurang paham :D Tapi kami diperkenankan membawa pulang
beberapa kotak makanan, terima kasih ;)
Sarapan di hotel, ini waktu
yang paling menyenangkan. Karena keluarga berkumpul semua di sana. Makanan yang
disajikan bervariasi dan rasanya cukup memuaskan. Ada makanan dan minuman tradisional
juga seperti serabi dan jamu. Makanan a la barat juga tersedia, tinggal pilih
mau makan apa. Saya suka sarapan di pelataran luar restoran karena menghadap ke
halaman belakang yang hijau dengan gemericik air kolam. Kalau beruntung, kita
bisa melihat gunung Ciremai juga di kala pagi.
Hotel Horison Tirta Sanita ini
sebelumnya bernama Hotel Tirta Sanita, kemudian bergabung dengan Horison group,
kemudian namanya menjadi Horison Tirta Sanita pada tahun 2015 kalau tidak
salah. Dalam perjalanannya, yang saya tahu, sudah dibangun kamar-kamar baru dan
function hall. Nah, untuk acara saya,
keluarga inti menginap di cottage yang
mengelilingi halaman tempat dilangsungkannya acara. Sementara keluarga besar
dan beberapa sahabat menginap di kamar hotel di bangunan baru di bagian samping.
Untuk honeymoon suite pula lokasinya
di bangunan lama, di bagian depan hotel, menghadap ke jalan.
Ulasan sedikit tentang
fasilitas kamar ini, ya. Untuk cottage,
bangunan ini cukup luas dan nyaman untuk menginap satu keluarga. Ada cottage yang berukuran besar dan kecil,
cukup sampai 10 orang atau bahkan lebih. Hanya saja, bangunan ini lama, jadi
agak kusam tampilannya, dan pengalaman saya, ada kamar yang telefon dan AC-nya
tidak berfungsi baik. Selain dari itu, cukup oke sih untuk menginap di sana. Gedung baru, bagi saya kece. Yah,
namanya masih bau baru, tampilan cakep, fasilitas juga sesuai dengan harga yang
ditawarkan. Untuk honeymoon suite,
ini merupakan bagian dari bangunan lama, kebetulan kamar mandi saya agak
tersumbat bathtub-nya, jadi kurang
nyaman. Tapi bisa dipahami bahwa hotel ini dalam proses peremajaan, menurut
informasi yang saya dengar, secara bertahap fasilitas mereka akan diperbaiki
dan ditingkatkan kualitasnya. Semoga semakin baik, ya!
Nah, untuk mewujudkan suasana
yang saya impikan itu, saya juga ambil dekorasi dari luar untuk melengkapi
dekorasi standar yang didapat dari hotel. Walaupun pada kenyataannya dekorasi
hotel melebihi ekspektasi standar saya, terima kasih! Dekorasi ini satu paket
dengan foto dan perias. Untuk keperluan ini, saya menggunakan jasa Bu Nannydari Komplek Pilang Perdana, Cirebon. Harga yang ditawarkan oleh Bu Nanny,
menurut saya, masuk akal dan hasil riasan juga cakep. Iya, saya cerewet soal
riasan, karena saya tidak mau nanti orang-orang tidak ada yang mengenali wajah
saya karena terlalu manglingi :D
Pertama kali saya ketemu Bu Nany
sekitar bulan Oktober 2016, kemudian bulan Desember sudah terbang ke Malaysia
untuk mulai bekerja. Kembali lagi ke Cirebon seminggu menjelang hari
pernikahan. Selama Desember sampai April 2017 itu, Bu Nany dan Mbak Desty,
anaknya, sering saya gangguin karena sampai satu minggu sebelum hari pernikahan,
saya belum tau mau pakai baju apa :D Sebetulnya saya mau pakai gaun, tapi koleksi
pakaian di Bu Nany tidak terlalu banyak pilihan gaun, dan kalaupun ada, entah
itu kekecilan atau terlalu besar dan tidak bisa dikecilkan. My bad. Akhirnya pilihan jatuh pada
kebaya modern putih :)
Saya gak mau ribet ganti baju
berkali-kali pada saat acara, jadi saya mengenakan kebaya putih yang
berpasangan dengan bawahannya yang senada untuk resepsi. Nah, untuk akad,
bawahan putih itu diganti dengan kain batik cokelat. Sementara Mas Bromo pakai
jas milik sendiri; kemeja putih tanpa dasi untuk akad, dan berdasi pada saat
resepsi. It was simple yet elegant. Just
nice.
Untuk keluarga, pakaian para
Ibu hajat, saudara kandung (tidak semua) dan pagar ayu disediakan dari pihak
perias. Karena pernikahan saya asik-asik aja, para bapak dan kakak-kakak pakai
baju punya sendiri dengan warna senada. Mencoba baju, mengukur dan mencocokkan
ini urusan ribet. Jadi, diputuskan untuk pakaian tidak terlalu ribet juga. Yang
penting kami sekeluarga bisa kumpul sama-sama, berbahagia. Cukup.
Riasan, saya suka dengan Mbak
Herna, anak Bu Nany yang mendandani saya. Mbak Herna bukan tipikal perias yang
ini-yang-bagus-untuk-kamu-terima-aja. Mbak Herna benar-benar mendengarkan
maunya saya apa, mau riasan yang bagaimana. Saya minta riasan yang tipis, tidak
menor, manglingi in a very minimu level. Saya minta warna nude dan alami. Saya puas :)
Oia, dalam paket riasan ada
luluran sehari sebelum acara hahaha. I
was surprised about this. Pertama, saya tidak pernah dilulur oleh orang
lain. Kedua, I was not aware that I will
get this service at the first place. Jadi, saya sempet nolak tuh :)) Malah
mau dikasih ke Mama aja, biar Mama yang dilulur :D Ibu hajat kan juga harus kece,
bukan? Haha. Tapi akhirnya saya menyerah dengan ‘sekali seumur hidup, gak
apa-apa’. Baiklah. And it was my very
first experience. Lama juga tuh lulurannya, di kepala saya ribet “kapan
kelarnya ini?”. I just don’t like people
touching my body. I don’t even do creambath or cut my hair in the saloon. My
Mom is my hairstylist haha. Can you
imagine how I “enjoyed” that luluran thing back then? :D
Untuk dekorasi, saya meminta
bunga segar dari Bu Nany supaya lebih hidup suasananya. Perpaduan konsep dari
hotel dan Bu Nany jadi cakep! Bunga-bunganya cantik. Nuansa warna putih, pink
dan hijau mendominasi suasana. Hanya saja hari itu pukul 12 hujan deras banget,
venue basah. Walhasil para tamu
blepotan sepatunya pada saat resepsi. Saya sendiri, mengotori baju Bu Nanny
dengan tanah :)) Selalu ada hal menarik dari setiap perayaan yang bisa diingat,
kan? Sore hari gunung Ciremai menampakkan dirinya pada saat akad berlangsung. Begitu
selesai akad, wujudnya jelas gagah sempurna terlihat. Subhanallah! Jadi
foto-foto setelah akad dilakukan berlatar gunung Ciremai, what about that? Awesome! ;)
Nothing
is perfect, btw. Karena paket perias ini juga sekalian WO, pada saat acara
agak sedikit tidak halus jalan acaranya. Diawali dengan perias yang datang
terlambat, sehingga proses merias molor dan waktu akad pun akhirnya molor. Pun
sempat ada kepanikan pada proses merias. Koordinasi antara penanggung jawab
acara agak kurang baik juga sehingga sempat idle
dalam proses transisi acara dari akad ke saweran. Hantaran untuk pengantin pria
pun tertinggal di cottage :D Padahal
udah cakep banget dihias, eh tidak terbawa. Pun hiasan mobil tidak sempat
dipasang.
Sebagai client yang baik, pihak saya menyampaikan terima kasih dan pujian
atas pelayanan yang memuaskan, dan menyampaikan kritikan dan saran bagi
kekurangan. Demi kebaikan pelayanan di masa mendatang. Semoga ke depannya Bu
Nany dan tim semakin baik lagi pelayanannya :)
Jadi, berdasarkan pengalaman
saya, Hotel Horison Tirta Sanita bisa jadi pilihan untuk melangsungkan
pernikahan dengan konsep alam di kawasan Cirebon/Kuningan. Dan, Bu Nany bisa jadi
pilihan sebagai perias dengan paket yang cakep ;)
2 komentar
Kamu kece banget malam itu!
ReplyDeleteAcaranya menyenangkan, ikrib banget ama penganten, makanannya enak, pemandangannya luar biasa.
Gak salah deh dateng pake converse hahaha
Makasih banyak udah dateng Mbak :*
Delete