Amplop bulanan
![]() |
Foto dari sini |
Baru baca artikel QM Financial yang ini, terpikir mau cerita sedikit tentang literasi finansial dan kepelitan saya hahaha. Sejak kelas 2 SD saya sudah dapat uang jajan bulanan. Inget banget tuh, segepok uang seratusan (Rupiah, perak, bukan ribu. LOL) masih cakep dikasih oleh orangtua setiap tanggal 1. Terserah uangnya mau diapakan; jadi uang saku ke sekolah atau ditabung. Dari pengalaman itu, saya diajarkan mengatur keuangan. Selain itu, dari kecil, Ibu saya selalu bawa saya ke mana-mana, termasuk bolak balik masuk dan keluar bank untuk menabung atau mengambil produk investasi yang ditawarkan oleh bank itu. Gaji ayah saya tidak besar, tapi mereka selalu berusaha untuk hidup cukup; cukup itu termasuk menabung dan investasi.
Awal mula kehidupan rumah tangga mereka, sistem amplop yang digunakan. Menabung? masih angan-angan. Gaji ayah saya kecil waktu itu. Jadi, uang dibagikan ke dalam beberapa amplop untuk keperluan makan mingguan, sewa rumah, bayar air dan listrik. Ingat betul, ibu saya rela tidak beli bakso waktu ngidam karena uangnya tidak akan cukup. Kebayang ya, lagi hamil, ingin makanan tertentu, bukan pun sering beli, tapi tidak mampu beli. Iya, alhamdulillah orangtua saya masih bisa makan. Mungkin ada orang-orang lainnya yang makan saja memang tidak sanggup karena tidak punya uang.
Nah, dari pelajaran-pelajaran kecil yang disamaikan melalui cerita atau pengalaman pergi ke bank dan sebagainya, termasuk diajarkan baca slip gaji haha, saya jadi banyak berhitung. Bukan pelit, ya. Berhitung. Berapa pun uang yang saya dapat dari orang tua atau saya dapat karena bekerja, saya betul-betul hitung pemakaiannya. Pernah juga memang kecolongan, karena beli A, B atau C jadi makan mie instant atau nasi putih sama gorengan di seminggu terakhir sebelum menuju tanggal 1 bulan berikutnya hahah. Resiko!
Tahun 2010 lalu, saya pertama kali dikenalkan dengan literasi finansial. Saya dibelikan bukunya Ligwinan Hananto. Baca buku itu, seperti ditampar-tampar! Hahaha. Betapa saya tidak tahu apa-apa mengenai finansial selain menabung dan membagi uang sampai cukup hingga gajian berikutnya. Saya baru ngerti, sedikiiiiit, tentang persiapan dana pensiun untuk hari tua, membagikan uang bulanan ke persenan tertentu supaya kita tetap terpenuhi kebutuhan bulanan dan menabung, bahkan berinvestasi. Ukuran yang selalu saya ingat adalah; pengeluaran rutin tidak lebih dari 60%, hutang tidak lebih dari 30% dan tabungan MINIMAL 10%. Hutang ini bisa apa saja, tapi sebisa mungkin tidak berhutang sih, apalagi Kartu Kredit. Kalau tidak ada hutang, angka 30% ini bisa ditarik untuk menambah jumlah tabungan. Atau, bisa 15% untuk main dan sisanya ditambahkan untuk menabung. Jika memungkinkan. Ukuran ini adalah yang ideal, tapi bisa diutak-atik asalkan mental menabung (dan berinvestasi) jangan sampai luntur. Pastikan alokasi itu ada di atas kertas.
Tahun 2010 lalu, saya pertama kali dikenalkan dengan literasi finansial. Saya dibelikan bukunya Ligwinan Hananto. Baca buku itu, seperti ditampar-tampar! Hahaha. Betapa saya tidak tahu apa-apa mengenai finansial selain menabung dan membagi uang sampai cukup hingga gajian berikutnya. Saya baru ngerti, sedikiiiiit, tentang persiapan dana pensiun untuk hari tua, membagikan uang bulanan ke persenan tertentu supaya kita tetap terpenuhi kebutuhan bulanan dan menabung, bahkan berinvestasi. Ukuran yang selalu saya ingat adalah; pengeluaran rutin tidak lebih dari 60%, hutang tidak lebih dari 30% dan tabungan MINIMAL 10%. Hutang ini bisa apa saja, tapi sebisa mungkin tidak berhutang sih, apalagi Kartu Kredit. Kalau tidak ada hutang, angka 30% ini bisa ditarik untuk menambah jumlah tabungan. Atau, bisa 15% untuk main dan sisanya ditambahkan untuk menabung. Jika memungkinkan. Ukuran ini adalah yang ideal, tapi bisa diutak-atik asalkan mental menabung (dan berinvestasi) jangan sampai luntur. Pastikan alokasi itu ada di atas kertas.
Sejak mulai bekerja, biasanya saya buru-buru pisahkan uang untuk ditabung dan segera bayar semua tagihan. Sisanya saya bagi-bagi untuk sekian minggu dalam satu bulan dan kadang-kadang, kalau gaji lumayan, saya alokasikan untuk senang-senang; belanja atau jalan-jalan.
Saya pernah kerja dengan gaji tetap, pernah juga kerja dengan pendapatan yang berbeda-beda setiap bulaln. Cara saya memperlakukan uang tetap sama. Begitu uang masuk rekening, terus aja saya kasih label semuanya. Jadi tau bahwa kamu punya uang sekian atau kamu tidak punya uang untuk main, tapi kamu tetap bisa makan. Saya selalu mengusahakan untuk tidak utak atik uang tabungan, sebisa mungkin, sampai ketemu titik di mana saya memang tidak punya uang lagi dan harus mencangkul isi tabungan, bahkan sampai habis. Ada aja masa-masa seperti itu.
Tapi bersyukur juga bahwa saya cukup disiplin dengan keuangan, jadi saya tetap bisa bertahan walau sedang terjepit. Yah, ada juga sih beberapa kali akhirnya pakai emergency call :)) Pinjam uang ke teman atau malah minta ke orangtua. Biasanya kalau sampai minta, kondisi saya memang sedang tidak bisa menghasilkan uang.
Membaca artikel QM Financial itu, saya setuju banget dengan langkah-langkah yang disarankan. Sekarang saya sudah mulai bekerja lagi, ada penghasilan tetap setiap bulan. Begitu gaji masuk ke rekening, saya langsung pisahkan alokasi untuk menabung, investasi dan sadaqah. Pulsa handphone diisi di awal bulan, langsung dalam jumlah tertentu yang bisa akomodir keperluan saya selama sebulan. Setelah itu, begitu awal bulan, saya bayar sewa-sewa. Begitu tagihan air dan listrik datang, saya langsung bayar juga. Sisanya, saya bagi-bagi untuk keperluan bulanan dan groceries. Biasanya saya ambil uang seminggu sekali dari ATM untuk keperluan selama satu minggu; makan, transportasi dan belanja di pasar. Kalau uang minggu itu ada sisa, saya bisa main di akhir pekan. Kalau tidak, ya sudah di rumah saja.
Untuk makan, saya tricky. Biasanya saya bawa sarapan dari rumah. Kadang-kadang ikut sarapan di kantin kantor, tapi jarang. Makan siang, karena ini waktu untuk sosialisasi, biasanya tiga kali dalam seminggu saya ikut makan ke luar sama teman sekantor. Hari lainnya saya akan bawa bekal dan makan di kantor. Kadang ada juga teman kantor yang bawa bekal, jadi bisa makan sama-sama. Kadang malah saya bawa bekal setiap hari. Dengan begitu, ada saja uang bersisa yang bisa dipakai untuk main atau beli sesuatu yang saya perlu atau untuk keperluan lainnya di luar rutin. Ada kalanya juga saya lagi malas, bisa tiap hari saya makan siang di luar. Agak costy sebetulnya kalau makan di luar, tapi makan dengan kolega itu kadang tidak terbeli juga, kan? Bisa diskusi, tau perkembangan berita terbaru dan lainnya.
Kalau minggu terakhir menjelang gajian rada mepet nih, pasti ada kebocoran yang saya lakukan! Biasanya terlalu banyak nyemil atau ada kegiatan yang memerlukan dana dan itu saya ambil dari dana mingguan. Tapi, saya selalu berusaha menggunakan jatah bulanan sesuai jumlahnya. Jadi sebisa mungkin tidak mengganggu uang tabungan. Karena uang tabungan berada di akun terpisah, jadi lebih aman.
Mungkin pengalaman saya ini ya sama saja dengan orang lain. Tapi saya terpikir aja untuk cerita, barang kali ada yang masih bingung atur keuangan ;)
0 komentar