Foto dari sini
Semakin hari, intensitas saya berolahraga semakin berkurang. Ingat betul tahun 2014-2015 rajin banget yoga, entah itu melakukannya sendiri di rumah atau pergi ke yoga studio. Karena excited dengan perkembangan kemampuan tubuh saya, yoga dilakukan hampir sepanjang hari. Ketika sedang bekerja, lalu dilanda bosan, saya akan melakukan satu atau dua posisi yoga yang membuat saya senang dan menambah semangat untuk bekerja kembali. Begitu terus. Ketika sedang getol-getolnya beryoga ria, badan saya singset, walaupun berat badan ya segitu aja. Tidur pun lebih nyenyak. 

Nah, semakin ke sini, ada saja alasan saya untuk tidak melakukan latihan harian. Pagi-pagi dari bangun saja sudah sibuk dengan memasak, bebersih rumah dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Sore hari, kadang-kadang saya lakukan juga beberapa posisi yoga sesampainya di rumah setelah pulang kerja. Tapi, sering kali saya pulang kerja lewat maghrib, pun badan sudah sangat lelah. Kadang makan pun saya malas-malasan karena terlalu lelah.

Begitu terus. Sampai akhirnya teman saya memberi tahu satu tempat olahraga yang cukup menyenangkan, Perdana Park. Lokasinya dekat Tanjung Aru di Kota Kinabalu, dekat dari kantor maupun rumah saya. Nah, saya mulai membiasakan bawa pakaian olahraga setiap hari ke kantor. Datang ke kantor lebih awal, dan mengusahakan pulang tenggo--jam 5 teng, langsung go. Kalau pun tidak bisa tenggo, saya biasanya mengusahakan pulang jam 5.30 sore, masih sempat mengejar sunset dan mengejar shalat maghrib di rumah. 

Tapi, sejak punya tanggung jawab baru di kantor, saya geser kegiatan olahraga saya di hari Sabtu dan Minggu. Biasanya saya olahraga di pagi hari, biar hari libur itu dimulai dengan kegiatan yang bermanfaat--cieh! Sering kali saya pergi olahraga sendiri, dan karena Perdana Park itu rame, jadi seru-seru aja. Seneng banget lihat orang-orang yang sudah berusia lanjut ikut olahraga sama-sama di sana. Ada anak-anak dan orang-orang seumuran saya juga, entah itu jogging, jalan santai atau bersenam. Suasananya memang mendukung banget buat bersemangat. 

Biasanya saya jalan cepat saja, tidak kuat lari, pun badan yang gendats bikin lutut sakit kalau lari. Jadilah jalan cepat yang saya pilih, dengan kedua tangan digerakkan sewaktu berjalan. Biasanya saya set untuk jalan lima putaran, satu putarannya sekitar 800m. Biasanya semangat kendor di putaran ketiga karena mulai terasa lelah. Kalau sudah begitu, saya perlambat jalannya, yang penting jalan, bergerak. 

Setelah selesai jalan, saya pendinginan. Kadang melakukan beberapa posisi yoga yang bisa membantu memperbaiki postur. Saya kerja satu harian, kebanyakan duduk. Tulang belakang sering terasa sakit. Beberapa posisi yoga cukup membantu meredakan dan sebagai upaya agar postur tubuh tidak ngaco karena posisi duduk seharian, apalagi posisi duduk yang salah.

Jadi, menjelang 2018 ini, saya ingin memacu diri saya untuk bergerak lebih banyak, mudah-mudahan saya lebih sehat, lebih bugar. Aamiin. 

Hampir setiap gadis kecil punya impian tentang acara pernikahannya kelak. Semewah atau sesederhana apapun mimpi itu. Saya, entah sejak kapan, membayangkan menikah di dalam rumah dan mensyukurinya bersama keluarga dan sahabat di ruangan terbuka, di taman atau kebun, dekat dengan alam. Rasanya mimpi ini sudah ada jauh sebelum garden party muncul di mana-mana. 

Sekian belas tahun dari awal mimpi itu dibangun, seorang laki-laki, sebut saja Mas Bromo, yang entah karena alasan apa Tuhan mempertemukannya dengan saya, melamar dan mengamini mimpi kecil saya itu. Mungkin judulnya “yang penting kamu bahagia”, gitu haha. Tapi, lebih dari itu, tentang pernikahan itu sendiri selalu kami bicarakan berdua, setiap waktu. Jadi, mimpi ini adalah hadiah dan pembuka perjalanan panjang yang akan kami jalani bersama-sama.

Sebelum lamaran itu, konsep akad dan syukuran pernikahan sudah mulai dibicarakan; di mana tempatnya, bagaimana akadnya, bagaimana syukurannya, siapa yang diundang dan detil lainnya yang ternyata banyak juga :D Setelah lamaran, makin serius lagi pembahasannya. Kemudian diputuskan untuk mewujudkan mimpi syukuran pernikahan saya di luar rumah. Maksudnya tidak di rumah dan halaman sebelah seperti yang semula saya pikirkan, karena banyak pertimbangan. Tapi konsep tetap sama; alam dan keakraban bersama keluarga dan sahabat.

Saya, yang mungkin introvert ini, selalu ingin pernikahan yang dihadiri orang-orang yang saya kenal; keluarga dan sahabat. Jujur, saya tidak punya banyak teman (dekat), kenalan mungkin iya, banyak. Tapi, tidak semua orang bisa saya bagi berbagai cerita. Dan untuk pernikahan, saya memilih untuk mensyukuri dan merayakannya dengan mereka; keluarga dan sahabat. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada teman-teman dan kolega lain, tentunya.  

Nah, setelah kata sepakat bahwa kami akan  menikah dengan konsep yang saya impikan itu, mulailah saya dan Mas Bromo keliling mencari tempat yang bisa mewakili imajinasi saya. Cari di dalam kota dan di luar kota Cirebon. Sampailah kami pada satu tempat yang memiliki lapangan hijau luas di bagian belakangnya, dilengkapi pemandangan maha cantik; Gunung Ciremai. Begitu lihat tempat ini, saya langsung pegang tangan Mas Bromo dan berbisik “ini, Mas!” sambil tersenyum lebar dan penuh harap di dada. Hotel Horison Tirta Sanita, di kawasan pariwisata Sangkan Hurip, Kuningan, tempatnya.

Beruntung waktu itu berkesempatan bertemu dengan pegawai hotel bagian marketingnya, Mbak Aliya, dan sempat ngobrol ini itu mengenai kemungkinan melakukan akad dan resepsi di pelataran hijau itu, dan bertanya mengenai harga paket dan lain sebagainya. Harga paket pernikahan yang mereka tawarkan masuk dalam anggaran dana kami :D Saya masih ingat, Mbak Aliya, yang waktu itu membantu saya untuk semua persiapan acara pernikahan ini, berkata “kalau pakai paket kami ini, Mbak cuma perlu bawa perias aja, sudah bisa jalan nih pestanya”, lebih kurang begitu. Makin bersinarlah mata saya :) Kemudian ngobrol naninu dengan keluarga, dan yap! Kami sepakat mengadakan acara pernikahan di sana. Yeay!

Jadi, saya ambil paket yang, bagi saya sih, lengkap; dekorasi standar untuk akad dan resepsi, 2 kamar standar untuk 1 malam, 1 honeymoon suite untuk 1 malam, voucher spa untuk pengantin,  hiburan (boleh pilih antara band atau akustik), makanan prasmanan untuk 500 orang, 4 gubug/food stalls, dan fasilitas lainnya seperti diskon sampai dengan 40% untuk pemesanan kamar dan cottage. Cakep! Dalam perkembangan persiapan acara pernikahan ini, saya memesan tambahan menu gubug, mengkonversi minuman berkarbonasi menjadi menu lain dan mengkonversi kamar standar yang ada dalam paket jadi 1 malam lagi menginap di honeymoon suite.

Kerjasama dari pihak hotel sangat baik, menurut saya. Mbak Aliya dan tim sangat responsif dan berusaha untuk mewujudkan keinginan client sesuai dengan budget yang ada. Konversi fasilitas yang kami ajukan disetujui, tim hotel tidak kaku dalam berkomunikasi. Hanya saja, bertemu dan diskusi secara langsung sepertinya lebih efektif dalam proses mematangkan konsep acara pada waktu itu untuk meminimalisir salah faham.

Jujur, saya tidak sempat mencicipi makanan waktu acara haha, terlalu sibuk haha hihi dan berfoto sana sini. Karena konsep acara pernikahannya adalah mingling, jadilah jadi pengantin yang pecicilan. Tapi menurut keluarga sih makanan yang disediakan enak dan berlimpah, alhamdulillah. Saya selalu takut makanan kurang, karena menurut saya good food will lead to good mood, jadi makanan enak dengan jumlah yang mencukupi dan rasanya itu harus banget! Hanya saja makanan yang bersisa tidak semuanya diperbolehkan dibawa pulang.  Sayang, masih banyak bersisa. Eh, ini entah peraturan di semua hotel atau bagaimana, saya kurang paham :D Tapi kami diperkenankan membawa pulang beberapa kotak makanan, terima kasih ;)

Sarapan di hotel, ini waktu yang paling menyenangkan. Karena keluarga berkumpul semua di sana. Makanan yang disajikan bervariasi dan rasanya cukup memuaskan. Ada makanan dan minuman tradisional juga seperti serabi dan jamu. Makanan a la barat juga tersedia, tinggal pilih mau makan apa. Saya suka sarapan di pelataran luar restoran karena menghadap ke halaman belakang yang hijau dengan gemericik air kolam. Kalau beruntung, kita bisa melihat gunung Ciremai juga di kala pagi.

Hotel Horison Tirta Sanita ini sebelumnya bernama Hotel Tirta Sanita, kemudian bergabung dengan Horison group, kemudian namanya menjadi Horison Tirta Sanita pada tahun 2015 kalau tidak salah. Dalam perjalanannya, yang saya tahu, sudah dibangun kamar-kamar baru dan function hall. Nah, untuk acara saya, keluarga inti menginap di cottage yang mengelilingi halaman tempat dilangsungkannya acara. Sementara keluarga besar dan beberapa sahabat menginap di kamar hotel di bangunan baru di bagian samping. Untuk honeymoon suite pula lokasinya di bangunan lama, di bagian depan hotel, menghadap ke jalan.

Ulasan sedikit tentang fasilitas kamar ini, ya. Untuk cottage, bangunan ini cukup luas dan nyaman untuk menginap satu keluarga. Ada cottage yang berukuran besar dan kecil, cukup sampai 10 orang atau bahkan lebih. Hanya saja, bangunan ini lama, jadi agak kusam tampilannya, dan pengalaman saya, ada kamar yang telefon dan AC-nya tidak berfungsi baik. Selain dari itu, cukup oke sih untuk menginap di sana. Gedung baru, bagi saya kece. Yah, namanya masih bau baru, tampilan cakep, fasilitas juga sesuai dengan harga yang ditawarkan. Untuk honeymoon suite, ini merupakan bagian dari bangunan lama, kebetulan kamar mandi saya agak tersumbat bathtub-nya, jadi kurang nyaman. Tapi bisa dipahami bahwa hotel ini dalam proses peremajaan, menurut informasi yang saya dengar, secara bertahap fasilitas mereka akan diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Semoga semakin baik, ya!

Nah, untuk mewujudkan suasana yang saya impikan itu, saya juga ambil dekorasi dari luar untuk melengkapi dekorasi standar yang didapat dari hotel. Walaupun pada kenyataannya dekorasi hotel melebihi ekspektasi standar saya, terima kasih! Dekorasi ini satu paket dengan foto dan perias. Untuk keperluan ini, saya menggunakan jasa Bu Nannydari Komplek Pilang Perdana, Cirebon. Harga yang ditawarkan oleh Bu Nanny, menurut saya, masuk akal dan hasil riasan juga cakep. Iya, saya cerewet soal riasan, karena saya tidak mau nanti orang-orang tidak ada yang mengenali wajah saya karena terlalu manglingi :D 


Pertama kali saya ketemu Bu Nany sekitar bulan Oktober 2016, kemudian bulan Desember sudah terbang ke Malaysia untuk mulai bekerja. Kembali lagi ke Cirebon seminggu menjelang hari pernikahan. Selama Desember sampai April 2017 itu, Bu Nany dan Mbak Desty, anaknya, sering saya gangguin karena sampai satu minggu sebelum hari pernikahan, saya belum tau mau pakai baju apa :D Sebetulnya saya mau pakai gaun, tapi koleksi pakaian di Bu Nany tidak terlalu banyak pilihan gaun, dan kalaupun ada, entah itu kekecilan atau terlalu besar dan tidak bisa dikecilkan. My bad. Akhirnya pilihan jatuh pada kebaya modern putih :)

Saya gak mau ribet ganti baju berkali-kali pada saat acara, jadi saya mengenakan kebaya putih yang berpasangan dengan bawahannya yang senada untuk resepsi. Nah, untuk akad, bawahan putih itu diganti dengan kain batik cokelat. Sementara Mas Bromo pakai jas milik sendiri; kemeja putih tanpa dasi untuk akad, dan berdasi pada saat resepsi. It was simple yet elegant. Just nice.

Untuk keluarga, pakaian para Ibu hajat, saudara kandung (tidak semua) dan pagar ayu disediakan dari pihak perias. Karena pernikahan saya asik-asik aja, para bapak dan kakak-kakak pakai baju punya sendiri dengan warna senada. Mencoba baju, mengukur dan mencocokkan ini urusan ribet. Jadi, diputuskan untuk pakaian tidak terlalu ribet juga. Yang penting kami sekeluarga bisa kumpul sama-sama, berbahagia. Cukup.

Riasan, saya suka dengan Mbak Herna, anak Bu Nany yang mendandani saya. Mbak Herna bukan tipikal perias yang ini-yang-bagus-untuk-kamu-terima-aja. Mbak Herna benar-benar mendengarkan maunya saya apa, mau riasan yang bagaimana. Saya minta riasan yang tipis, tidak menor, manglingi in a very minimu level. Saya minta warna nude dan alami. Saya puas :)

Oia, dalam paket riasan ada luluran sehari sebelum acara hahaha. I was surprised about this. Pertama, saya tidak pernah dilulur oleh orang lain. Kedua, I was not aware that I will get this service at the first place. Jadi, saya sempet nolak tuh :)) Malah mau dikasih ke Mama aja, biar Mama yang dilulur :D Ibu hajat kan juga harus kece, bukan? Haha. Tapi akhirnya saya menyerah dengan ‘sekali seumur hidup, gak apa-apa’. Baiklah. And it was my very first experience. Lama juga tuh lulurannya, di kepala saya ribet “kapan kelarnya ini?”. I just don’t like people touching my body. I don’t even do creambath or cut my hair in the saloon. My Mom is my hairstylist haha. Can you imagine how I “enjoyed” that luluran thing back then? :D

Untuk dekorasi, saya meminta bunga segar dari Bu Nany supaya lebih hidup suasananya. Perpaduan konsep dari hotel dan Bu Nany jadi cakep! Bunga-bunganya cantik. Nuansa warna putih, pink dan hijau mendominasi suasana. Hanya saja hari itu pukul 12 hujan deras banget, venue basah. Walhasil para tamu blepotan sepatunya pada saat resepsi. Saya sendiri, mengotori baju Bu Nanny dengan tanah :)) Selalu ada hal menarik dari setiap perayaan yang bisa diingat, kan? Sore hari gunung Ciremai menampakkan dirinya pada saat akad berlangsung. Begitu selesai akad, wujudnya jelas gagah sempurna terlihat. Subhanallah! Jadi foto-foto setelah akad dilakukan berlatar gunung Ciremai, what about that? Awesome! ;)

Nothing is perfect, btw. Karena paket perias ini juga sekalian WO, pada saat acara agak sedikit tidak halus jalan acaranya. Diawali dengan perias yang datang terlambat, sehingga proses merias molor dan waktu akad pun akhirnya molor. Pun sempat ada kepanikan pada proses merias. Koordinasi antara penanggung jawab acara agak kurang baik juga sehingga sempat idle dalam proses transisi acara dari akad ke saweran. Hantaran untuk pengantin pria pun tertinggal di cottage :D Padahal udah cakep banget dihias, eh tidak terbawa. Pun hiasan mobil tidak sempat dipasang.

Sebagai client yang baik, pihak saya menyampaikan terima kasih dan pujian atas pelayanan yang memuaskan, dan menyampaikan kritikan dan saran bagi kekurangan. Demi kebaikan pelayanan di masa mendatang. Semoga ke depannya Bu Nany dan tim semakin baik lagi pelayanannya :)

Jadi, berdasarkan pengalaman saya, Hotel Horison Tirta Sanita bisa jadi pilihan untuk melangsungkan pernikahan dengan konsep alam di kawasan Cirebon/Kuningan. Dan, Bu Nany bisa jadi pilihan sebagai perias dengan paket yang cakep ;)





Instagram: @omduta 
Foto di atas diambil oleh Mas Bromo, pagi hari sebelum kami bergerak ke arah Sembulan. Pemandangan setiap pagi mungkin tidak sama. Ada kalanya gunung itu malu-malu dan bahkan bersembunyi di balik awan. Ada kalanya sangat dramatis, dengan sorotan sinar matahari, konturnya jelas terlihat. Setiap pagi, keluar saja dari rumah, saya langsung mengecek bagaimana pemandangan gunung Kinabalu dari depan rumah. Pagi itu, hari di mana Mas Bromo saya panggil untuk memotret pemandangan indah ini, merupakan salah satu pagi yang indah bagi saya. Ingat betul, saya keluar rumah lebih dulu, sementara Mas Bromo masih siap-siap, dari depan saya lari ke dalam rumah dan memintanya untuk bawa kamera dan memotret gunung itu. Hasilnya mendekati yang saya lihat dengan mata telanjang. Cantik. 

Begitulah pemandangan saya setiap pagi. Lihat alam membentang di depan mata selalu bikin semangat untuk memulai hari :) 


Setahun lalu Mas Bromo sempet nyepik bahwa tahun ini insyaAllah kami akan bisa ibadah puasa sama-sama. Alhamdulillah doa Mas Bromo, dan saya, terkabul. Awal bulan Mei ini alhamdulillah kami melangsungkan pernikahan. Empat tahun lebih menjalani peran sebagai sepasang kekasih, tjailah, sudah memberi banyak pelajaran melalui pengalaman ketawa, marah, bahagia, gundah dan lainnya sama-sama. Tepat 6 Mei 2017 lalu, kami memulai peran baru sebagai sepasang suami-istri, insyaAllah sampai maut memisahkan. 

Saya hanya mampu membaca bismillah dan bismillah dan terus bismillah di setiap langkah kami berdua. Tidak pernah ada yang sempurna, tapi insyaAllah barokah. Aamiin.

Jadi, gimana rasanya dimasakin istri, Mas? Seneng, dong :D 

Foto dari sini

Baru baca artikel QM Financial yang ini, terpikir mau cerita sedikit tentang literasi finansial dan kepelitan saya hahaha. Sejak kelas 2 SD saya sudah dapat uang jajan bulanan. Inget banget tuh, segepok uang seratusan (Rupiah, perak, bukan ribu. LOL) masih cakep dikasih oleh orangtua setiap tanggal 1. Terserah uangnya mau diapakan; jadi uang saku ke sekolah atau ditabung. Dari pengalaman itu, saya diajarkan mengatur keuangan. Selain itu, dari kecil, Ibu saya selalu bawa saya ke mana-mana, termasuk bolak balik masuk dan keluar bank untuk menabung atau mengambil produk investasi yang ditawarkan oleh bank itu. Gaji ayah saya tidak besar, tapi mereka selalu berusaha untuk hidup cukup; cukup itu termasuk menabung dan investasi.

Awal mula kehidupan rumah tangga mereka, sistem amplop yang digunakan. Menabung? masih angan-angan. Gaji ayah saya kecil waktu itu. Jadi, uang dibagikan ke dalam beberapa amplop untuk keperluan makan mingguan, sewa rumah, bayar air dan listrik. Ingat betul, ibu saya rela tidak beli bakso waktu ngidam karena uangnya tidak akan cukup. Kebayang ya, lagi hamil, ingin makanan tertentu, bukan pun sering beli, tapi tidak mampu beli. Iya, alhamdulillah orangtua saya masih bisa makan. Mungkin ada orang-orang lainnya yang makan saja memang tidak sanggup karena tidak punya uang. 

Nah, dari pelajaran-pelajaran kecil yang disamaikan melalui cerita atau pengalaman pergi ke bank dan sebagainya, termasuk diajarkan baca slip gaji haha, saya jadi banyak berhitung. Bukan pelit, ya. Berhitung. Berapa pun uang yang saya dapat dari orang tua atau saya dapat karena bekerja, saya betul-betul hitung pemakaiannya. Pernah juga memang kecolongan, karena beli A, B atau C jadi makan mie instant atau nasi putih sama gorengan di seminggu terakhir sebelum menuju tanggal 1 bulan berikutnya hahah. Resiko!

Tahun 2010 lalu, saya pertama kali dikenalkan dengan literasi finansial. Saya dibelikan bukunya Ligwinan Hananto. Baca buku itu, seperti ditampar-tampar! Hahaha. Betapa saya tidak tahu apa-apa mengenai finansial selain menabung dan membagi uang sampai cukup hingga gajian berikutnya. Saya baru ngerti, sedikiiiiit, tentang persiapan dana pensiun untuk hari tua, membagikan uang bulanan ke persenan tertentu supaya kita tetap terpenuhi kebutuhan bulanan dan menabung, bahkan berinvestasi. Ukuran yang selalu saya ingat adalah; pengeluaran rutin tidak lebih dari 60%, hutang tidak lebih dari 30% dan tabungan MINIMAL 10%. Hutang ini bisa apa saja, tapi sebisa mungkin tidak berhutang sih, apalagi Kartu Kredit. Kalau tidak ada hutang, angka 30% ini bisa ditarik untuk menambah jumlah tabungan. Atau, bisa 15% untuk main dan sisanya ditambahkan untuk menabung. Jika memungkinkan. Ukuran ini adalah yang ideal, tapi bisa diutak-atik asalkan mental menabung (dan berinvestasi) jangan sampai luntur. Pastikan alokasi itu ada di atas kertas. 

Sejak mulai bekerja, biasanya saya buru-buru pisahkan uang untuk ditabung dan segera bayar semua tagihan. Sisanya saya bagi-bagi untuk sekian minggu dalam satu bulan dan kadang-kadang, kalau gaji lumayan, saya alokasikan untuk senang-senang; belanja atau jalan-jalan. 

Saya pernah kerja dengan gaji tetap, pernah juga kerja dengan pendapatan yang berbeda-beda setiap bulaln. Cara saya memperlakukan uang tetap sama. Begitu uang masuk rekening, terus aja saya kasih label semuanya. Jadi tau bahwa kamu punya uang sekian atau kamu tidak punya uang untuk main, tapi kamu tetap bisa makan. Saya selalu mengusahakan untuk tidak utak atik uang tabungan, sebisa mungkin, sampai ketemu titik di  mana saya memang tidak punya uang lagi dan harus mencangkul isi tabungan, bahkan sampai habis. Ada aja masa-masa seperti itu. 

Tapi bersyukur juga bahwa saya cukup disiplin dengan keuangan, jadi saya tetap bisa bertahan walau sedang terjepit. Yah, ada juga sih beberapa kali akhirnya pakai emergency call :)) Pinjam uang ke teman atau malah minta ke orangtua. Biasanya kalau sampai minta, kondisi saya memang sedang tidak bisa menghasilkan uang. 

Membaca artikel QM Financial itu, saya setuju banget dengan langkah-langkah yang disarankan. Sekarang saya sudah mulai bekerja lagi, ada penghasilan tetap setiap bulan. Begitu gaji masuk ke rekening, saya langsung pisahkan alokasi untuk menabung, investasi dan sadaqah. Pulsa handphone diisi di awal bulan, langsung dalam jumlah tertentu yang bisa akomodir keperluan saya selama sebulan. Setelah itu, begitu awal bulan, saya bayar sewa-sewa. Begitu tagihan air dan listrik datang, saya langsung bayar juga. Sisanya, saya bagi-bagi untuk keperluan bulanan dan groceries. Biasanya saya ambil uang seminggu sekali dari ATM untuk keperluan selama satu minggu; makan, transportasi dan belanja di pasar. Kalau uang minggu itu ada sisa, saya bisa main di akhir pekan. Kalau tidak, ya sudah di rumah saja. 

Untuk makan, saya tricky. Biasanya saya bawa sarapan dari rumah. Kadang-kadang ikut sarapan di kantin kantor, tapi jarang. Makan siang, karena ini waktu untuk sosialisasi, biasanya tiga kali dalam seminggu saya ikut makan ke luar sama teman sekantor. Hari lainnya saya akan bawa bekal dan makan di kantor. Kadang ada juga teman kantor yang bawa bekal, jadi bisa makan sama-sama. Kadang malah saya bawa bekal setiap hari. Dengan begitu, ada saja uang bersisa yang bisa dipakai untuk main atau beli sesuatu yang saya perlu atau untuk keperluan lainnya di luar rutin. Ada kalanya juga saya lagi malas, bisa tiap hari saya makan siang di luar. Agak costy sebetulnya kalau makan di luar, tapi makan dengan kolega itu kadang tidak terbeli juga, kan? Bisa diskusi, tau perkembangan berita terbaru dan lainnya. 

Kalau minggu terakhir menjelang gajian rada mepet nih, pasti ada kebocoran yang saya lakukan! Biasanya terlalu banyak nyemil atau ada kegiatan yang memerlukan dana dan itu saya ambil dari dana mingguan. Tapi, saya selalu berusaha menggunakan jatah bulanan sesuai jumlahnya. Jadi sebisa mungkin tidak mengganggu uang tabungan. Karena uang tabungan berada di akun terpisah, jadi lebih aman. 

Mungkin pengalaman saya ini ya sama saja dengan orang lain. Tapi saya terpikir aja untuk cerita, barang kali ada yang masih bingung atur keuangan ;) 

Banyak yang bertanya kepada saya mengenai resep membuat jus/smoothie sayur dan buah. Di artikel saya yang ini ada contekan padu padan sayur dan buah yang biasanya saya konsumsi sehari-hari. Baca, yuk! 

Artikel saya di www.jejamo.com tentang tips jalan-jalan sendiri, bisa dibaca di sini.

I came to KK early on December 2016, I did not realize that December is the month of massive taking leave :)) I mean, December is school holiday, so most of parents/workers taking leave for vacation with their family. Other thing that there were three mondays-off, so lot of holidays on that month that I have to spend either alone or alone :)) It was even worse at the end of the month, people seemed go do not know where and my office was a total empty. 

It's just like my new year, I was staying at home for the whole three days. Not really staying la, I went to market and some other more places to buy foods or something. But most of the time, I sat at home. Re-watching movies, eating and having more sleeps. Well, I did yoga. Yeaaay! A bit sad actually since my body seems cannot cooperate to do some poses. I struggled enough, especially to do forward fold pose. But, that's the price I should pay for taking off yoga for full year, last year. Sad. 

Anyway, picture above is my living room, where I spend most of my time during staying at home. I try not to spend a lot of time in bedroom for I do not want to much sleeping. This year, I wish to be more productive, in so many ways. Therefore, bedroom is forbidden place during the day. In fact I spent lot of time to watch movie in the living room hahaha what a lazy girl! 

I just bought the sofa cover, I really hate when my sofa is dirty let alone this is rented one. I do not want to disappoint the owner by returning the house dirty. I, myself felt sad and mad at the same time knowing my apartment left dirty with broken sofa and bed. They were cruel. I have no idea how they use the property in the house. Huft. 

That's all for now.